GHENT, HELOINDONESIA.COM - Program FIND4S Indonesia sukses mencuri perhatian dalam paparan implementasi dan evaluasi di hadapan tim external advisor di Kota Ghent, Belgia. Meskipun mendapat pujian dari Konsorsium Erasmus Plus, delegasi dari Universitas Semarang (USM), Prof Dr Ir Rohadi, MP, membawa pulang "oleh-oleh" berupa catatan kritis bagi dunia akademik di Kota Semarang.
Pesan paling tajam datang dari Koordinator Projek Konsorsium Erasmus Plus, Prof Jan FM Van Impe. Ia menegaskan prinsip sinergitas bersama atau tidak meninggalkan siapa pun dalam pengembangan kapasitas program studi pangan di Semarang.
“Semua anggota FIND4S Indonesia harus saling membantu dan menyelaraskan program. Jangan Undip saja yang maju,” kata Prof Rohadi mengutip pesan Prof Jan, Jumat 17 April 2026. Prof Jan juga mendorong agar Undip sebagai motor utama bersedia merangkul kampus anggota lainnya untuk melakukan transfer ilmu dan peningkatan kapasitas.
Sementara Prof Torstein Skara dari Nofima Norwegia, sebuah lembaga penelitian pangan untuk industri akuakultur, industri perikanan, dan industri pangan, mengatakan laporan para peserta sudah bagus dan tidak perlu diragukan lagi.
Terkait rencana pendirian program studi magister pangan teknologi pangan pada dua kampus (Undip dan USM), Prof Tiny van Boekel dari WUR-Wageningen University & Research (WUR), Belanda menyampaikan perlu melibatkan industri makanan, pemerintah, LSM, dan pelaku industri.
Disamping itu diperlukan ilmu pengetahuan komprehensif termasuk tidak hanya teknologi tetapi juga ilmu dan perilaku konsumen pada struktur kurikulum.
''Dalam pengamatannya belum ada universitas anggota FIND4S Indonensia yang berkolaborasi dengan industri yang lebih besar, hanya UKM,'' ungkapnya.
Prof Tiny mengatakan, universitas juga harus memiliki pusat pengembangan karier atau sejenisnya. Dosen dan mahasiswa perlu terlibat dalam program pengembangan karier. Mahasiswa mungkin memiliki ide bagus dalam perbaikan kurikulum.
''Kami memiliki program lokakarya daring dan kuliah tamu, kunjungan studi, dan pembelajaran standar,'' katanya sambil menekankan dalam pengamatannya bahasa Inggris masih menjadi kendala.
Ruang Kolaborasi
Sedangkan menurut pengamatan Moez Sanaa, Founder & CEO, International Food Risk Analysis Consortium (IFoRAC), Perancis bahwa program studi magister memiliki ruang kolaborasi untuk membuat Sistem Pangan dengan universitas dan lembaga lain.
Hal ini terkait dengan program SDGs dari PBB, yang tentu diadopsi oleh masing-masing negara.
''Sistem Pangan, tidak cukup sektor tradisional untuk didanai.Yang diajarkan pada program magister adalah cara mereka berpikir,'' tuturnya.
Hal senada dikatakan atase Kedutaan Besar RI Bidang Pertanian di Belgia dan Uni Eropa, Winarti Halim. Menurutnya, pemerintah saat ini menyediakan 35% anggaran untuk program makan bergizi gratis (MBG), sehingga perlu dilakukan training, pendidikan kepada mereka yang terlibat oleh universitas.
''Ketersediaan data (big data) untuk bidang pendidikan sangat perlu, dan itu dimulai dari pendidikan,'' tandasnya. (Aji)
