Helo Indonesia

Jangan Biarkan Algoritma Menjadi Guru Agama, Pesan dalam Maulid Nabi di Unimus

1 jam 30 menit lalu
    Bagikan  
Jangan Biarkan Algoritma Menjadi Guru Agama, Pesan dalam Maulid Nabi di Unimus

Ustaz Fachrur Rozi dalam peringatan acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Unimus

SEMARANG, HELOINDONESIA.COM -Cukup dengan satu sapuan jari di layar gawai, ribuan ceramah dan kajian agama kini bisa tersaji dalam hitungan detik. Namun, di balik kepraktisan ini tersembunyi sebuah ancaman serius bagi umat Islam: menyerahkan otoritas keilmuan agama sepenuhnya kepada algoritma media sosial.

Peringatan tajam ini menjadi sorotan utama dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di Masjid At-Taqwa, Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), pada Kamis pagi 3 September 2026.

Baca juga: Kadisparbud Wonosobo Apresiasi Sarasehan Kopi Slukatan, Dorong Potensi Lokal Jadi Daya Tarik Wisata

Di hadapan Rektor Unimus, Prof Dr Masrukhi MPd, Wakil Rektor II Prof Budi Santoso, Warek IV, M Yusuf PhD serta mahasiswa, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang, ustaz Dr H Fachrur Rozi MAg membedah realitas keberagamaan modern. Ia menyoroti pergeseran budaya pencarian ilmu—dari mendatangi majelis dan berguru secara bertahap, menjadi sekadar mengandalkan mesin pencari.

"Jangan jadikan algoritma sebagai guru agama," tegas Fachrur Rozi dalam materinya.

Menurutnya, mesin media sosial tidak bekerja berdasarkan kebenaran ilmu, melainkan pada kecenderungan pengguna dan popularitas konten. Hal ini memicu risiko di mana seseorang merasa telah mempelajari banyak ilmu agama, padahal ia hanya disuguhi konten yang menggemakan pandangannya sendiri tanpa menguji kedalaman atau kredibilitas sumber tersebut. Jumlah likes dan followers tidak bisa dijadikan standar kebenaran.

Dalam materi yang disampaikan, Fachrur Rozi mengajak sivitas akademika untuk menjadikan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai fondasi dalam menghadapi perubahan zaman, termasuk revolusi informasi yang semakin cepat.

Menurutnya, kemajuan digital membawa dua sisi sekaligus. Di satu sisi, teknologi membuka akses luas terhadap pengetahuan agama. Masyarakat kini dapat dengan mudah menemukan ceramah, kajian, tafsir, hadis, hingga berbagai diskusi keislaman melalui internet.

Namun di sisi lain, kemudahan tersebut juga menghadirkan persoalan serius berupa banjir informasi dan munculnya sumber-sumber keagamaan yang tidak selalu memiliki otoritas dan kredibilitas yang jelas.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah perubahan pola masyarakat dalam mencari ilmu agama. Jika sebelumnya seseorang mencari guru, mendatangi majelis ilmu dan belajar secara bertahap, kini pencarian informasi keagamaan sering kali dimulai dari mesin pencari dan media sosial.
Literasi Keagamaan
Kondisi tersebut menuntut adanya kemampuan literasi keagamaan yang lebih kuat.

Menurutnya, algoritma media sosial, pada dasarnya, bekerja berdasarkan kecenderungan pengguna dan popularitas konten. Apa yang sering ditonton akan semakin sering direkomendasikan.

Akibatnya, seseorang bisa saja merasa mendapatkan banyak pengetahuan agama, padahal informasi yang diterimanya hanya berputar pada sudut pandang tertentu.

Baca juga: Gandeng 6 UIN, Pemprov Jateng Fokuskan Kolaborasi Atasi Kemiskinan hingga Sertifikasi Halal

Dalam situasi demikian, popularitas sebuah konten tidak selalu identik dengan kebenaran. Banyaknya jumlah penonton, tanda suka dan pengikut tidak dapat dijadikan ukuran tunggal terhadap kedalaman ilmu seseorang.

Karena itu, masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara sumber informasi yang kredibel dengan informasi yang hanya mengejar sensasi dan perhatian publik.

Fachrur Rozi juga menekankan pentingnya literasi akhlak dalam kehidupan digital. Persoalan di media sosial bukan semata-mata tentang benar atau salahnya informasi, tetapi juga menyangkut cara seseorang menyampaikan pendapat dan merespons perbedaan.

Perbedaan dalam substansi, menurut pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut, tidak boleh menghilangkan kesantunan dalam komunikasi. Umat Islam dapat berbeda pandangan, namun tetap harus menjaga adab, menghormati sesama dan menghindari kebiasaan saling menyerang.

“Beda dalam substansi, santun dalam komunikasi,” menjadi prinsip penting yang relevan untuk diterapkan di tengah ruang digital yang sering kali dipenuhi perdebatan keras.

Baca juga: Platform Apung Buatan Dosen Teknik Sipil USM Siasati Mobilitas Material Proyek Tanggul Demak

Peringatan Maulid Nabi kali ini sekaligus mengajak peserta untuk menghadirkan kembali nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kampus tidak hanya dipandang sebagai tempat mengejar prestasi akademik, tetapi juga ruang untuk membangun karakter, akhlak dan kesadaran spiritual.

Maulid Nabi, pada akhirnya, bukan hanya soal mengenang sejarah kelahiran Rasulullah. Maulid adalah momentum untuk bertanya: apakah di tengah kehidupan yang semakin digital, kita masih menjadikan akhlak dan keteladanan Nabi Muhammad SAW sebagai kompas dalam menjalani zaman? (Aji)