TANGGAMUS LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM ----Memasuki bulan Oktober, Pemerintah Kabupaten Tanggamus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor hingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Pesan tersebut disampaikan Bupati Tanggamus Drs. H. Moh. Saleh Asnawi, M.A., M.H., dalam amanat Apel Senin pagi yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Tanggamus Ir. Suaidi, M.M., selaku inspektur upacara di Lapangan Kabupaten Tanggamus, Senin (5/10/2026).
Dalam amanatnya, Bupati mengingatkan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peningkatan curah hujan di wilayah Tanggamus diperkirakan terjadi lebih cepat, yakni memasuki Oktober.
Kondisi geografis Tanggamus yang memiliki banyak wilayah perbukitan curam dan aliran anak sungai membuat sejumlah kawasan memiliki potensi terhadap bencana banjir maupun longsor.
“Kondisi ini menuntut perhatian serius dan kesiapsiagaan penuh dari kita semua,” tegas Bupati dalam amanatnya.
Bupati meminta seluruh OPD terkait dan para camat yang tergabung dalam Tim Reaksi Cepat Multi Sektor meningkatkan kesiapsiagaan personel, peralatan serta jalur komunikasi selama 24 jam.
Selain itu, camat, kepala pekon dan lurah diminta aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, terutama warga yang tinggal di kawasan lereng perbukitan, bantaran sungai dan titik-titik rawan longsor.
Bupati juga mendorong gerakan gotong royong membersihkan saluran air, drainase, aliran anak sungai dan lingkungan dari sampah maupun material yang berpotensi menghambat aliran air.
Waspada Karhutla
Tak hanya bencana akibat curah hujan tinggi, Bupati juga mengingatkan jajaran pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, termasuk Karhutla.
Dinas Pemadam Kebakaran diminta memastikan kesiapan personel, kendaraan pemadam, peralatan, sumber air, komunikasi serta sistem respons cepat.
“Jangan menunggu kebakaran menjadi besar baru kita bergerak,” kata Bupati.
Menurutnya, kecepatan menerima laporan dan melakukan penanganan awal sangat menentukan agar api tidak meluas dan menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Bupati juga menyoroti perkembangan titik panas berdasarkan Sistem Pemantauan Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan. Berdasarkan pemantauan satelit di Provinsi Lampung pada 30 September 2026, tercatat 325 titik panas, dengan dua titik panas terdeteksi di Kabupaten Tanggamus.
Namun, Bupati menegaskan bahwa keberadaan titik panas atau hotspot tidak serta-merta berarti telah terjadi kebakaran.
“Titik panas atau hotspot tidak selalu berarti telah terjadi kebakaran,” jelasnya.
Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi satelit sehingga tetap perlu ditindaklanjuti melalui pengecekan dan verifikasi di lapangan.
Karena itu, jajaran Damkar, BPBD, Dinas Lingkungan Hidup, pemerintah kecamatan dan pekon serta pihak terkait diminta aktif memantau informasi SiPongi dan perkembangan cuaca dari BMKG.
Bupati juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka dan membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca kembali panas dan kering.
“Turunnya hujan tidak boleh membuat kewaspadaan kita menurun,” tegasnya.
Ia meminta seluruh jajaran pemerintah menyampaikan pesan kewaspadaan tersebut kepada masyarakat dan segera melaporkan apabila menemukan kebakaran lahan, kepulan asap atau aktivitas pembakaran yang berpotensi tidak terkendali.
Menutup amanatnya, Bupati menyampaikan apresiasi kepada jajaran Pemadam Kebakaran dan petugas lapangan yang selama ini berada di garis depan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
“Tetap siaga, jaga keselamatan dalam bertugas, tingkatkan kecepatan respons, dan perkuat koordinasi,” pesannya.
Bupati berharap kesiapsiagaan pemerintah dan kepedulian masyarakat dapat menjadi kekuatan bersama dalam menjaga Kabupaten Tanggamus dari berbagai potensi bencana, baik banjir dan longsor maupun ancaman kebakaran dan Karhutla.( rls)
