Helo Indonesia

Ke Anak Sendiri Emosi, ke Anak Orang Lain Perhatian, Cek Kejiwaanmu! Jangan-jangan Mengidap Bipolar

M. Haikal - Ragam -> Kesehatan
Sabtu, 4 Oktober 2025 19:42
    Bagikan  
Bipolar
Foto: pexels

Bipolar - Beberapa masalah di atas merupakan pemicu terjadinya gangguan mental atau dikenal dengan mental health atau mood swing.

HELOINDONESIA.COM - Dalam berbagai penelitian modern membuktikan bahwa aromaterapi dapat membantu menurunkan tingkat stres, meningkatkan kualitas tidur, memperbaiki suasana hati bahkan bisa menstabilkan emosi.

Beberapa masalah di atas merupakan pemicu terjadinya gangguan mental atau dikenal dengan mental health atau mood swing.

Umumnya, munculnya masalah itu karena gabungan faktor dari internal yaitu hormon kesehatan mental dan juga dari eksternal, lingkungan dan gaya hidup atau urban lifestyle.

"Kalau kita lebih rinci lagi di sini itu terbagi dari faktor fisik dan biologis," papar Ketua Satu Indonesia Wellness Spa Association (IWSPA), Ir Dian Maulana Said di acara webinar Indonesia Wellness Tourism International Festival (IWTIF).

Berikut rincian faktor fisik dan biologis yang menjadi penyebab masalah mental pada seseorang.

Baca juga: Makin Bengkak, Hutang DBH Pemprov Lampung ke Kabupaten/Kota

Pertama secara biologis, karena perubahan hormon. Contohnya, kondisi ketika seorang perempuan itu mengalami PMS kehamilan minus atau pubertas.

"Dari perubahan hormon ini atau juga dari fisik ini adalah karena kurang tidur tidur, sehingga mengganggu regulasi dari emosi kita di otak," ujarnya.

Contoh lainnya, orang yang banyak begadang dan pagi hari sudah harus bekerja lag.

Kedua juga ada karena kondisi medis. Di mana kondisi medis ini ada dari hipotiroid atau juga hipotiroid diabetes, gangguan saraf ataupun penyakit kronis lainnya.

Ketiga faktor psikologis. faktor ini adalah stres yang berlebihan karena tekanan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya, sekolah, masalah keluarga atau yang semakin miris adalah masalah finansial itu menjadi faktor psikologis gangguan kesehatan mental.

Baca juga: Awas! Kebiasaan Konsumsi Junk Food Bisa Mengalami Penuaan Dini

"Sehingga menjadi pemicunya menyebabkan orang menjadi depresi bahkan bisa juga gangguan bipolar," jelasnya.

Dari gangguan bipolar borderline personality disorder atau kecemasan yang berlebih juga ada karena trauma dan luka emosional yang belum terselesaikan atau kita mengenal dengan inner child.

"Pengalaman (buruk)masa lalu yang belum terselesaikan bisa membuat emosi kita lebih mudah berubah," ujarnya.

Keempat, faktor lingkungan dan gaya hidup juga berpengaruh. Misalnya pola makan yang tidak seimbang, gula darah naik turun cepat akibat konsumsi gula yang berlebih atau telat makan itu juga bisa mempengaruhi.

Baca juga: Wagub Jihan Dorong RSJD Lampung Tingkatkan Kualitas Pelayanan dan Komitmen Birokrasi Bersih

Kelima, kurangnya aktivitas fisik. Olahraganya yang penting olahraga ringan teratur dilakukan bisa membuat pelepasan hormon endorfin atau hormon bahagianya.

Keenam, faktor lingkungan sosial dimana lingkungan sosial. Sering terjadi konflik atau kita berada di dalam toxic relationship lingkungan yang toksik atau juga kurangnya dukungan dari orang tua.

Ketujuh, gaya hidup juga adalah paparan simulasi yang berlebih yaitu terlalu lama main gadget juga sering menerima informasi negatif di media sosial dan overloadnya pekerjaan.

"Boleh aja kita bermedsos. Tapi tidak berlebihan sehingga tidak memasuki alam emosional kita terlalu yang berlebih," tandasnya.

Dari pemicu tersebut, lanjut Dian, biasa saja artinya gangguan turun naiknya. Kalau gangguannya sebentar saja itu masih dianggap normal sebagai manusia.

Baca juga: Duo Agus Resmikan, Per Oktober WNI/WNA Masuk Indonesia Wajib Isi Data Satu Pintu di All Indonesia

"Jadi penyebab karena hormon karena capek, lelah, kurang tidur kurang istirahat itu hal yang wajar," tambahnya.

Namun menjadi tidak wajar ketika masalah berlanjut dan dia sendiri tidak tahu harus bagaimana.

"Dampak fatalnya pada mental hope atau yang menyebabkannya mood swingm Ini yang menyebabkan dampak fatalnya yaitu gangguan kesehatan mental yang berat," jelasnya

Nah, masalah yang tidak terkendali bisa menjadi gejala bipolar disorder.

"Kasus ini banyak sekali di masyarakat kita. Yang bipolar ini ada yang dia sadari dan ada yang dia tidak menyadarinya," ujar Dian.

Baca juga: Pemenang Tanggamus Color Run 2025 Diberangkatkan Umroh, Ini Pesan Bupati

Yang menjadi masalah ketika dampaknya ke keluarga. Dia terhadap keluarga bisa mengeluarkan emosi, bahkan ke anak.

"Tapi kalau ke lingkungan di luar dia bagus, sama anak orang atau sama temen dia menghargai deh. Tapi begitu di rumah dia tidak menghargai baik itu suaminya maupun anaknya karena dia menjadi bipolar," urainya

Lebih lanjut Dian memaparkan bahwa dengan kondisi itu dia menjadi seseorang yang memiliki dua karakter.

"Kalau dia menyadari dia akan mendatangi ke psikolog sendiri atau ada temen yang ngasih tahu "Kok kamu kayaknya berbeda banget sih kalau kamu di luar sama anak orang atau ama temen menghargai tapi begitu di rumah sama suami pun juga dia cuek dan segala macam" itu adalah bipolar," jelasnya.