Helo Indonesia

Di Acara JMSI, Ketua Dewan Pers: Wartawan itu Seperti Nabi, Bisa Mengubah Peradaban Manusia

M. Haikal - Nasional
Selasa, 25 November 2025 19:27
    Bagikan  
Dewan Pers
Foto: Heloindonesia

Dewan Pers - Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) mengukuhkan sejumlah pengurus pusat pada Selasa (25/11/2025)

HELOINDONESIA.COM - Bisnis yang tidak pernah mati itu adalah bisnis informasi, yakni bisnis media. Yang kedua adalah bisnis pendidikan.

Namun muncul sebuah paradoks bahwa banyak wartawan yang mengeluh karena banyak media massa yang mati.

Pernyataan ini diungkapkan Ketua Dewan Pers Prof Komaruddin Hidayat dalam acara Pengukuhan Pengurus Pusat Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) di Hall Gedung Dewan Pers pada Selasa (25/11/2025).

Prof Komaruddin mengisahkan tentang seorang wartawan di Solo yang memiliki bisnis kuliner.

Baca juga: Tak Hanya Kelas Premium, Destinasi Wisata Etnaprana juga Harus Menjangkau Semua Kalangan

"Wartawan itu selalu mempromosikan kafenya di media sosial. Kalau sudah masuk TV itu seperti diviralkan, pengunjung langsung meledak. Jadi mereka (wartawan) dikatakan masih muda, mereka juga punya usaha bisnis," ungkap Prof Komaruddin.

Lebih lanjut dikatakan Prof Komaruddin, setiap saat orang itu pasti butuh informasi dan mengkonsumsi informasi layaknya mengkonsumsi udara atau minum air.

"Contoh paling mudah adalah begitu Anda bangun tidur Anda tidak cari minuman kan? Apa yang dipegang saat bangun tidur pertama handphone. Cari informasi. Makanya siapa yang bisa mengemas bisnis informasi itu pasti sukses," ujar Prof Komaruddin memberi semangat kepada para wartawan dan pengusaha media massa online yang tergabung dalam JMSI.

Ditegaskan Prof Komaruddin bahwa peradaban dunia ini bermula dari informasi.

Baca juga: Pemkab Tubaba Lantik Pejabat Baru: Pj Sekda Tekankan Integritas dan Profesionalitas

"Pada awalnya, informasi masih dalam bentuk ide. Semua peradaban itu bermula dari ide-ide, masih di dalam benak (wartawan). Kemudian ide itu dikemas jadi sebuah informasi. Entah itu tulisan surat kabar atau pidato, lalu berkembang jadi berita," ulasnya.

Komaruddin bercerita suatu kali ketika di sebuah forum wartawan dirinya mendapatkan kritik, refleksi bahwa bisnis media lagi lesu.

"Di beberapa perusahaan media banyak wartawan terkena PHK. Tapi di lain waktu, kalau ketemu wartawan itu semangatnya luar biasa. Gembira, canda-canda," kenangnya.

Lanjut Prof Komaruddin, di situ terdapat sebuah paradoks. Di satu sisi menyampaikan problema, tapi di sisi lain menunjukkan semangat.

Baca juga: 18 Tersangka Kasus Narkoba Diamankan Polres Tangsel

"Mereka (wartawan) di kehidupan biasa menghadapi tantangan. Tantangan itu (dijadikan) sebagai guru, sebagai teman," ujarnya.

Jadi, tegas Prof Komaruddin, manusia paling tangguh adalah seorang wartawan.

Di forum itu pun, dia menghibur para wartawan bahwa bisnis yang tidak pernah mati itu bisnis informasi. Kemudian, bisnis pendidikan.

Yang sangat dahsyat dan luar biasanya lagi, lanjut Prof Komaruddin, informasi yang berasal dari langit, kemudian menjadi sebuah tulisan dalam kitab suci, membuat sebuah peradaban dunia Islam.

Baca juga: Peringatan HGN, Taj Yasin Upayakan Insentif Guru Non- ASN di Jateng Berlanjut Tahun Depan

"Wartawan itu seperti nabi, nabi yang menyampaikan berita. Jadi selain nabi, seorang wartawan yang bisa mengubah sebuah peradaban," tandasnya.