SEMARANG, HELOINDONESIA.COM - Di tengah gempuran tren kendaraan modern dan sepeda listrik yang kian menjamur, kecintaan terhadap sepeda kebo, sepeda tua, dan sepeda antik justru menolak punah di Kota Semarang.
Berangkat dari semangat perlawanan terhadap zaman dan gairah merawat sejarah, para loyalis sepeda tua sepakat mendeklarasikan komunitas baru: Paseduluran Pecinta Sepeda Antik (PASPASAN) Semarang.

Komunitas ini resmi lahir dalam sebuah pertemuan yang gayeng dan penuh kehangatan di kawasan Perumahan Ketileng Indah, Kota Semarang, Minggu 17 Mei 2026. Momentum bersejarah ini juga disepakati sebagai hari lahir resmi PASPASAN Semarang.
Baca juga: Genjot Sport Science, Dispora Jateng Gembleng Pelatih Fisik Demi Rajai Cabor Terukur
Dalam musyawarah yang berlangsung secara aklamasi, Patih Suwondo dipercaya menakhodai komando sebagai Ketua PASPASAN Semarang. Ia akan disokong oleh gerbong kepengurusan yang solid, antara lain Dedi Indrawan (Sekretaris), Heru Prasetya (Bendahara), Sigit Pramono (Humas), serta Karyanto dan Dwi Asiyanto di lini Umum.
Sederet nama seperti Nurhisam, Yusuf, Dyah NA, Catur Wulandari, dan Mulyani juga merapatkan barisan memperkuat fondasi awal klub gowes ini.
Dalam kesempatan tersebut, para anggota juga sepakat menetapkan tanggal 17 Mei sebagai hari lahir resmi Klub PASPASAN Semarang.
Ketua PASPASAN Semarang, Patih Suwondo, mengatakan, pembentukan komunitas ini merupakan bagian dari upaya menjaga keberadaan sepeda antik dan sepeda tua agar tetap dikenal masyarakat, khususnya generasi muda.
“Kami ingin sepeda antik dan budaya ngonthel tetap hidup di tengah masyarakat. Bukan hanya sekadar hobi, tetapi juga menjadi sarana persaudaraan, silaturahmi, dan pelestarian sejarah transportasi,” ujar Patih.
Ia menjelaskan, komunitas PASPASAN juga menjadi bagian dari keluarga besar Komunitas Sepeda Tua Indonesia atau KOSTI yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan sepeda tua di berbagai daerah.
Baca juga: 536 Atlet Berlaga di Kejurnas Terbuka Wushu Piala Rektor UNNES 2026, PB WI Beri Apresiasi Tinggi
Menurutnya, PASPASAN menjadi salah satu komunitas sepeda antik yang paling baru terbentuk di Kota Semarang. Meskipun demikian, Ia optimistis komunitas tersebut akan berkembang dan mampu memberikan warna tersendiri bagi dunia persepedaantikan di ibu kota Jawa Tengah.
Wadah Baru
Sebelumnya, di Kota Semarang telah lebih dahulu hadir sejumlah delapan komunitas sepeda tua dan sepeda antik, di antaranya SOS, Komunitas Sepeda Kopi Mijen, Onthelis KOSTI Semarang, serta berbagai paguyuban ontel di wilayah Semarang Barat, Semarang Timur, Genuk, Mijen, Banyumanik, hingga Tembalang.
Patih Suwondo berharap keberadaan komunitas ini dapat menjadi wadah baru bagi para pecinta sepeda antik untuk berkumpul, berbagi pengalaman, sekaligus mempererat persaudaraan antarpenggemar sepeda tua.
“Kami berharap anggota PASPASAN terus bertambah dan semakin banyak masyarakat yang ikut mencintai serta merawat sepeda-sepeda tua yang memiliki nilai sejarah,” katanya.
Sementara itu, Humas PASPASAN Semarang Sigit Pramono menyampaikan , pengenalan dan sosialisasi komunitasnya kepada masyarakat akan dilakukan dalam kegiatan Ngonthel Bareng Triwulanan KOSTI Semarang yang dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026 mendatang.
Kegiatan tersebut nantinya akan diikuti berbagai komunitas sepeda tua dari Kota Semarang dan sekitarnya, dengan titik akhir atau finish di Klub SOPAN Semarang.
“Momentum ngonthel bareng nanti akan kami manfaatkan untuk memperkenalkan PASPASAN kepada para pecinta sepeda antik dan masyarakat luas. Kami ingin PASPASAN dikenal sebagai komunitas yang guyub, solid, dan aktif melestarikan budaya sepeda tua,” ujar Sigit.
Dengan terbentuknya PASPASAN Semarang, diharapkan semangat pelestarian sepeda antik dan budaya ngonthel di Kota Semarang semakin berkembang serta mampu menjadi bagian dari gaya hidup sehat, ramah lingkungan, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga. (Aji)
