Penulis Rohman
Wartawan Kompeten Dewan Pers
LAMPUNG, HELOINDONESIA.COM – Bel berbunyi. Satu per satu anak-anak memasuki ruang kelas dengan senyum yang masih polos. Buku-buku pelajaran diletakkan di atas meja kayu yang mulai menua. Guru membuka pelajaran, sementara puluhan pasang mata menatap papan tulis dengan penuh harap.
Namun, ada satu hal yang tak pernah benar-benar lepas dari perhatian mereka. Di atas kepala, plafon yang lapuk menggantung diam. Air menetes dari sela-sela atap yang bocor. Setiap desir angin kencang menghadirkan kekhawatiran apakah bangunan tua itu masih sanggup bertahan?
Begitulah hari-hari yang dijalani 148 siswa SMP Karya Bhakti Panaragan, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung. Sekolah yang berdiri sejak 1981 itu telah menjadi saksi lahirnya ribuan mimpi.
Namun kini, usia bangunan yang semakin renta membuat ruang-ruang kelas berubah menjadi tempat belajar yang menyimpan risiko. Meski demikian, tak ada yang memilih menyerah.
Para guru tetap datang lebih awal. Mereka menyambut murid-murid dengan senyum yang sama setiap pagi. Para guru tidak ingin anak-anak kehilangan hak untuk belajar jadi semangat yang terus dijaga di sekolah sederhana tersebut.
Kepala SMP Karya Bhakti Panaragan, Ananda Ruri Vianora, S.Pd, mengaku rasa khawatir selalu menyertai setiap proses belajar mengajar.
"Walaupun kondisi bangunan ruang kelas sangat memprihatinkan, kami tetap berupaya agar kegiatan belajar mengajar berjalan sebagaimana mestinya. Semangat guru maupun anak-anak tidak pernah surut," ujarnya saat dihubungi, Kamis (30/7/2026).
Di balik keterbatasan itu, sekolah masih berdiri dengan kekuatan 11 guru, sembilan tenaga kependidikan, operator dan pembina, serta seorang kepala sekolah. Mereka menjadi keluarga kecil yang menjaga agar api pendidikan tidak pernah padam.
Yang lebih mengharukan, yayasan memilih tidak membebankan biaya pembangunan kepada para orangtua.
Sebagian besar wali murid berasal dari keluarga petani, buruh, dan pekerja dengan penghasilan yang pas-pasan.
Menambah iuran pembangunan hanya akan memperberat langkah mereka.
"Kami memahami kondisi ekonomi sebagian besar orangtua siswa. Karena itu kami tidak ingin menambah beban mereka dengan menarik iuran pembangunan gedung," kata Ananda.
Harapan sebenarnya sudah berkali-kali diketuk.
Proposal rehabilitasi telah diajukan kepada Pemerintah Kabupaten Tulangbawang Barat. Tim Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bersama konsultan bahkan beberapa kali datang melakukan peninjauan dan pengukuran.
Hasilnya, ruang kelas SMP Karya Bhakti dinilai layak menjadi prioritas rehabilitasi karena tingkat kerusakannya sudah berat. Namun hingga kini, harapan itu masih menggantung.
"Pihak dinas dan konsultan sudah beberapa kali datang melihat bahkan mengukur kondisi bangunan. Mereka juga menyampaikan bahwa ruang kelas ini layak diprioritaskan karena kondisinya sudah membahayakan. Namun hingga sekarang belum juga terealisasi," ungkapnya.
Bantuan terakhir yang diterima sekolah datang pada 2020 berupa pembangunan gedung perpustakaan dan laboratorium IPA. Sementara ruang kelas yang setiap hari dipenuhi tawa dan cita-cita anak-anak belum pernah mendapatkan sentuhan rehabilitasi.
Sejak 2025, sekolah kembali mengajukan proposal revitalisasi. Hingga pertengahan 2026, kepastian itu belum juga tiba. Ketua Komite SMP Karya Bhakti Panaragan, Tarmindi, mengatakan rehabilitasi ruang kelas sudah menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
Menurutnya, kemampuan yayasan maupun masyarakat sangat terbatas. Mustahil memperbaiki bangunan yang rusak berat hanya mengandalkan swadaya.
"Kalau hanya mengandalkan swadaya masyarakat atau iuran wali murid, tentu akan sangat lama. Karena itu kami berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi sekolah ini sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Padahal, selama hampir 45 tahun, SMP Karya Bhakti telah menjadi rumah bagi pendidikan anak-anak dari Panaragan, Menggala Mas, Bandar Dewa, hingga wilayah sekitarnya. Hampir 1.800 alumni telah lahir dari sekolah ini dan kini mengabdikan diri di berbagai profesi.
Bangunan boleh menua. Cat dinding boleh memudar. Kayu-kayu penyangga boleh mulai rapuh. Namun semangat belajar anak-anak itu tetap tegak berdiri. Mereka tidak meminta ruang kelas yang mewah. Mereka hanya membutuhkan tempat yang aman untuk mengeja huruf, menghitung angka, dan menggantungkan cita-cita.
Karena sesungguhnya, yang sedang dipertaruhkan di sekolah itu bukan sekadar bangunan tua, melainkan masa depan generasi yang setiap pagi datang membawa mimpi. Semoga, sebelum langit-langit itu benar-benar runtuh, kepedulian lebih dahulu datang menopangnya. ***