Helo Indonesia

Wisata Sejarah, Misteri Puisi di Makam Noni Belanda dari Sang Kekasih di Pulau Onrust

M. Haikal - Ragam -> Traveling
Rabu, 12 November 2025 21:40
    Bagikan  
Pulau Onrust
Foto: Heloindonesia

Pulau Onrust - Komplek pemakaman orang-orang Belanda yang hidup di abad ke 16 Masehi di Pulau Onrust.

HELOINDONESIA.COM -“Onrust”, salah satu pulau dari seribu pulau di Kepulauan Seribu Jakarta. Onrust berasal dari bahasa Belanda, artinya “tidak pernah beristirahat”.

Meski tak seluas pulau lainnya, Pulau Onrust menjadi daya tarik wisata sejarah yang penuh misteri dan kisah mistis.

Mengapa orang Belanda menamai dengan "Onrust"?

Ya, dalam sejarahnya, pulau ini menjadi pusat aktivitas yang sibuk, mulai dari masa kolonial Belanda, era penjajahan Jepang, kemerdekaan hingga jaman revolusi.

Baca juga: Lantik DPD KPPI Jateng, Gubernur Dorong Beri Edukasi Politik untuk Pemberdayaan Perempuan

Cerita sejarah itu terlihat dari banyaknya sisa-sisa puing bangunan berupa batu, bata, meriam, bangunan kuno, penjara tahanan politik yang sudah direhabilitasi dan juga makam-makam.

Untuk menuju pulau ini bisa menggunkan kapal penumpang dari Pelabuhan Kali Adem (Muara Angke), Marina Ancol, Sunda Kelapa, dan Tanjung Pasir Tangerang.

Kebetulan kami memilih untuk menuju beberapa pulau melalui Pelabuhan Marina Ancol. Tak sampai satu jam perjalanan untuk tiba ke Pulau Onrust.

Kendati tak seluas pulau lainnya, Onrust menawarkan pengalaman wisata yang unik, terutama bagi mereka yang tertarik dengan sejarah dan cerita-cerita misteri.

Baca juga: Ada Indikasi Izin Tak Lengkap, DPMPTSP Tubaba Panggil Pimpinan PT GKP

Sayangnya, pulau yang justru lebih dekat ketimbang pulau lainnya dari Marina Ancol, justru di Onrust tak ada aliran listrik.

Jadi penjaga dan pengurus di Onrust hanya merasakan lampu menyala hanya di malam hari menggunakan genset.

Kunjungan tersebut dalam rangka mendukung program pemerintah Bangga Berwisata di
Indonesia (BBWI) dan promosi pariwisata Jakarta.

Bertemakan Jakarta Walking Tour Festival (JWTF), Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan 19 organisasi kesehatan tradisional membuat program wisata edukatif.

Baca juga: Antologi Cerpen Kampungku dan Kota Semarang Diluncurkan, Ini Pesan Wali Kota

Tujuannya agar para peserta bisa mengenal lebih dalam destinasi-destinasi wisata Jakarta secara langsung melalui kunjungan lapangan.

"Tujuan Jakarta Walking Tour Festival ini untuk meningkatkan wawasan,
memberikan pengalaman yang unik dan pada akhirnya memotivasi generasi
muda dalam mempromosikan pariwisata urban Jakarta yang kaya akan sejarah dan budaya," papar Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Daerah Istimewa Jakarta, Andhika Pratama pada Rabu (12/11/2025).

Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu hingga Kamis, 12 – 13 November 2025, puluhan peserta dari 19 organisasi kesehatan tradisional diajak mengunjungi Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa dan Pulau Payung.

Di Pulau Onrust, para peserta diberikan wawasan tentang sejarah pulau yang mulai didiami oleh orang Eropa, terutama VOC Belanda sejak tahun 1613 Masehi.

Baca juga: Polresta Bandara Soetta Gulung Sindikat Vape Illegal Senilai Puluhan Miliar Rupiah

Rosadi, guide di pulau Onrust membawa peserta ke beberapa peninggalan sejarah.

"Luas pulau ini berkurang setelah meletusnya gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883," terangnya saat menuju sebuah bangunan tua yang sudah direnovasi.

Rosadi juga menunjukkan puing-puing bekas rumah sakit penderita penyakit kulit seperti lepra dan tempat karantina jamaah haji yang baru pulang dari Mekkah, kini hanya menyisakan pondasi-pondasi setinggi kurang lebih 20 centian.

"Jadi bentuknya agak miring ya, karena dulu pasien haji tidurnya dibuat miring. Dalam satu bangunan terdapat 100 pasien" ujarnya.

Rosadi menunjukkan dua buah bungker yang berada di bawah bekas bangunan rumah sakit tersebut.

Baca juga: Dorong Layanan Kesehatan Masyarakat, Pemprov Lampung Perkuat CKG, Imunisasi, dan BPJS

"Di sisi bangunan ada perangkap tikus. Ini ada sisanya, jadi tikus gak bisa naik kalau sudah ukuran kedalaman satu meteran," jelasnya.

Ada satu bunker lagi yang belum sempat dijamah oleh siapa pun sehingga meninggalkan jejak misterius hingga kini.

Suasana mistis terasa saat Rosadi mengajak ke komplek pemakaman orang-orang Belanda yang meninggal di tahun 1600an.

Di komplek pemakaman tersebut, terdapat ratusan makam yang ukurannya panjang-panjang.

Baca juga: Polresta Bandara Soetta Gulung Sindikat Vape Illegal Senilai Puluhan Miliar Rupiah

Bentuknya ada yang terbuat dari bata, juga dari batu besar. Panjang dan lebar malam sekitar 1,5 x 2 meteran. Bahkan ada yang lebih.

"Yang pakai batu itu makam bangsawan Belanda. Kalau yang pakai batu-batu bata itu orang Belanda biasa yang tak punya gelar," paparnya.

Rosadi juga mengungkapkan kalau dirinya pernah mendapati tulang belulang orang Belanda yang makamnya terkikis oleh ombak lautan.

undefined

Ada satu makam yang menarik perhatian kami. Makam itu dibuat dari batu dan terdapat tulisan yang diukir sedemikian rupa dalam bahasa Belanda.

Baca juga: Sempat Hore Robby Ditahan Kejari Metro Lagi, Joni Sudah Tahanan Kejari Sukadana

"Ini makam seorang wanita cantik bernama Maria yang meninggal di usia 27 tahun. Itu yang menuliskan di atas batu makam kekasihnya yang merasa kehilangan Maria," jelasnya.

Dari keterangan sebuah papan nama, noni cantik itu bernama lengkap Maria van de Velde. Lahir pada 1693 dan meninggal dunia pada 1721.

Konon, menurut cerita, saking sayang dan cintanya si pemuda pada Maria, makamnya dibuat ukiran tulisan puisi dan batunya dipesan langsung dari negara India.

Berikut isi puisi yang penuh misteri dan sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

Baca juga: DWP Provinsi Lampung Gelar Sosialisasi E-Reporting untuk Tingkatkan Akuntabilitas dan Kinerja Pelaporan

Maria van de Velde
Mayatnya telah dikubur,
walaupun ia pantas
hidup bertahun-tahun lamanya
seandainya Tuhan berkenan demikian.
Namun rupanya, Jehova
menghalangi itu dengan kematian(nya).
Maria hilang, Maria tiada lagi!
Bukan! Saya Tarik Kembali kata itu!
Karena diucapkan tanpa pikir panjang.
Maka, semoga kelancanganku
langsung didenda!                                   

Kini Maria sungguh-sungguh hidup, sejak hidup dekat dengan Tuhannya.             

Lahir di Amsterdam 29 Desember 1693.  Meninggal pada 19 November 1721 di Onrust