Oleh Muzzamil*
AWAL kenal, dekat penghujung 1997. Tahun krisis moneter (krismon), terdepresiasinya Rp terhadap USD. Menjurang jadi krisis ekonomi berujung krisis politik 1998. Senjakala hingga jatuh rezim Soeharto. Tahun lahir reformasi, yang kelak 22 tahun berikutnya disusul satir 'enak zamanku tho?'
Kenalnya, tak sengaja berpapasan depan Balai Bahasa Universitas Lampung (Unila). Lihat raut tengah betulkan letak kacamata, sekelebat sapa segera: "Pak Nanang..!"
Badannya sekonyong berhenti. Menoleh cari sumber suara. Lantaran itu penulis, dia sambut uluran tangan, kami bersalaman.
Santer dia dosen gaul berpemikiran maju condong progresif, dibanding lainnya —di bawah hegemoni rezim pemerintahan represif Orde Baru kala itu: memilih zona nyaman, menjadi yang acap disebut satir: 'intelektual tukang', istilah lahir terinspirasi buku Julien Benda, Penghianatan Intelektual.
Namanya banyak dibincangkan mahasiswa terutama di almamater kampus oranye, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), kamipun ngobrol topik berat: proletarisasi.
Ya, proletarisasi atau pemiskinan massal, fenomena sosial faktual salah satu buah mahal malapraktik ketidakadilan sistem ekonomi politik kapitalisme yang jadi anutan nyata 32 tahun rezim Orde Baru Soeharto berkuasa 1966-1998. Dengan modifikasi praksisme kapitalisme kroni ala Soeharto.
Tidak buat 'geer-geer'in diri sendiri, diskusi pendek barang seperempat jam, diakhiri tanya spontan, "Siapa namanya Mas?" itu kelak berlanjut jadi diskusi putus-putus hingga belasan, puluhan tahun kemudian.
Diskusi seperempat jam, pemantik kontak batin. Tak sesilabus, tak sejadwal kelas: dia dosen Komunikasi, penulis mahasiswa Ilmu Pemerintahan; kelak kontak batin itu terus mengalir terjalin.
Saat ekonomi Indonesia kian hancur. Politik kian represif. Studi kasusnya di Lampung, dengan picu perlawanan rakyat menentang kediktatoran rezim Soeharto terbujur paling mencolok pascaperlawanan sporadis Boikot Pemilu 1997, yakni pemogokan massal sopir angkot di Bandarlampung September 1997.
Lantas, buah demo-demo kecil; raihan kemenangan kecil demi kemenangan kecil, aksi rintisan yang terus digelar rupa bentuk: diskusi kritis, mimbar bebas, long march keliling kampus, bagi selebaran, aksi mogok makan, hingga grafiti action.
Dengan rupa tuntutan dari paling ekonomis hingga isu paling politis: Tolak Kenaikan Harga BBM, Turunkan Harga Sembako, Adili Koruptor, Cabut Dwifungsi ABRI dan 5 Paket UU Politik 1985, terakhir 'Turunkan Soeharto!'
Tak ayal, sejarah pergerakan reformasi 1998 di Lampung mencatat peristiwa pemantik terbesar pertama kali (disusul Solo), aksi massa berujung bentrokan fisik puluhan ribu mahasiswa lintas kampus tergabung front Keluarga Mahasiswa, Pemuda, Pelajar dan Rakyat Lampung (KMPPRL) dipimpin koorlap Habiburokhman. Dengan aparat.
Habib sapaan Koordinator KMPPRL pertama kelahiran Metro, Lampung ini; saat itu aktivis mahasiswa FH Unila, selain aktivis study club Forum Diskusi Mahasiswa (Fordima) dan SMID; kelak Sekretaris KPW Partai Rakyat Demokratik (PRD) Lampung era PRD peserta Pemilu 1999 nomor urut 16, hijrah ibukota menjadi pengurus KPP PRD cum Redaktur Pembebasan PRD 1999–2000, pendiri/Sekretaris Eksekutif LBH Rakyat (LBHR) 2000–2002, pendiri/Koordinator Serikat Pengacara Rakyat (SPR) 2002–2010.
Lalu dia Ketua Bidang Advokasi DPP Partai Gerindra 2008–2020, pendiri cum pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) 2016–kini, Anggota Dewan Pembina cum Wakil Ketua Umum (Waketum) Bidang Hukum dan Advokasi DPP Partai Gerindra 2020–2030.
Khusus ini, selain Habib ada "ulun" Lampung lain sesama anggota Dewan Pembina DPP Partai Gerindra 2020–2025, Faishol Djausal.
Habib, selalu masuk tim hukum dan advokasi era juang elektoral Prabowo Subianto sejak jadi cawapresnya Megawati (Mega-Prabowo Pilpres 2009), Prabowo-Hatta di Pilpres 2014, Prabowo-Sandi di Pilpres 2019 dan klimaks Prabowo-Gibran di Pilpres 2024 ini; kelak anggota DPR/MPR 2019–2024 dapil Jakarta Timur cum Wakil Ketua Komisi III DPR dan Waketum Bidang Hukum dan Advokasi DPP Partai Gerindra 2020–2025, kini anggota DPR/MPR 2024–2029 dapil sama cum Ketua Komisi III DPR dan Ketua Fraksi Gerindra MPR, juga Waketum Bidang Hukum dan Advokasi DPP Partai Gerindra 2025–2030.
Kembali ke aksi, puluhan ribu demonstran aksi mahasiswa terbesar pertama Lampung prakejatuhan Soeharto itu, tersulut emosi tertahan blokade barikade kawat berduri, pagar betis pasukan polisi anti huru-hara (PHH, kini Dalmas) plus BKO pasukan militer dibelakangnya, di pertigaan Jl Zainal Abidin Pagar Alam dan ujung jalur dua akses keluar masuk Jl Soemantri Brodjonegoro area Tugu Unila, Gedongmeneng, Rajabasa, Bandarlampung, 19 Maret 1998.
Aksi massa dua agenda tuntutan utama: 'Turunkan Harga' dan 'Turunkan Soeharto!', dikenal dikenang kelak kini sebagai 'Tragedi Gedong Meneng Berdarah 19 Maret 1998': bentrokan pecah, diduga provokasi intel, massa yang marah melempari barikade aparat dengan batu dan botol air mineral.
Usai sekira 1,5 jam hujan batu, aparat mulai merangsek maju guna membubarkan paksa kerumunan massa aksi yang beberapa kali kocar-kacir karena tembakan gas air mata. Ratusan terluka. Pun aparat.
Siang terik itu jadi momen berdarah. Puluhan mahasiswa yang tertangkap, tak ayal jadi sasaran emosi aparat. Ada yang spontan digebuki, dipukuli, "dicengkeweng", dipiting, seraya diseret ke truk PHH, digelandang ke Mapolresta Bandarlampung.
Menghindari lebih banyak korban jatuh, mahasiswa memutuskan mundur ke dalam kampus. Hindari kemungkinan sweeping aparat, pagar betis dibuat dengan kekuatan tersisa. Mencekam hingga bada Isya.
Singkat cerita, hari itu pulalah tercatat kali pertama, mula sejarah gerakan mahasiswa 1998 di Sumatra: demo berakhir bentrokan berdarah, berujung penyanderaan 8 pamen Polda Lampung —datang ke kampus Unila sedianya guna negosiasi dengan Rektor saat itu Alhusniduki Hamim namun disandera mahasiswa menuntut pembebasan seluruh massa aksi yang ditahan aparat.
Berbuah, kesepakatan 'barter' pembebasan seluruh mahasiswa yang ditahan polisi dan 8 pamen yang disandera mahasiswa. Isu sweeping aparat hingga malamnya, bikin cekam suasana bak hendak perang dunia.
Kabar bentrok Lampung, Solo kemudian, jadi buah bibir di Jakarta.
Pak Nanang, saat itu dimana? Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Unila, lengkap gelar Dr. Drs. Nanang Trenggono, M.Si, kelahiran Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, 4 Desember 1962.
Belia remaja di kampung, keluarganya bertetangga dengan keluarga Tionghoa penjual roti yang acap dirundung tiap Lebaran tiba: dilempari petasan oleh warga. Empati Nanang terbentuk.
Kala dia Ketua OSIS SMAN 1 Purwodadi 1981, kala itu demo anti-Cina merebak, Solo Raya hingga Semarang. Dia dan Kepsek larang siswa keluar pagar sekolah gabung demo bersentimen SARA ini, saat massa melintas.
Dekan FEB UNS Solo 2019-2024 Prof. Djoko Suhardjanto, M.Com (Hons), Ph.D, Ak, salah satu sohib Nanang sejak remaja.
Muhibah Paris van Java 1982, studi S1 Pemerintahan Universitas Padjadjaran (UNPAD), dia banyak ikut kelompok diskusi.
Dia lulus 1987. Jadi dosen 1989. Sewindu dari lulus dia Magister Komunikasi UI 1995. Semat toga Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD, 2009.
Saat S2, artikelnya soal Hari Kartini: 'Wanita dalam Arus Perubahan' di Media Indonesia, diganjar Menpen Harmoko, Menneg UPW Mien Sugandhi, Ketum PWI Sofyan Lubis; artikel terbaik nasional soal peningkatan peranan wanita dalam pembangunan. 1993.
Usai S2, Nanang yang berkebetulan tengah di kawasan Megaria Jakarta, turut jadi saksi hidup Tragedi 27 Juli 1996.
Sebagai penafian (disclaimer), pada demo 19 Maret 1998, dia bukan figur pemengaruh alih-alih aktor intelektual, sama sekali bukan.
Tetapi, Nanang Trenggono tercatat ikonik dalam sejarah pergerakan mahasiswa Lampung, sendirinya sekaligus tercatat dalam sejarah gerakan reformasi 1998 di Lampung; sebagai dosen Unila pertama, sekaligus dosen Lampung pertama yang turut gabung berorasi barang tiga menit dalam mimbar bebas mahasiswa FISIP dan FH Unila di halaman gedung D FISIP Unila, 5 Maret 1998.
Rekaman ingatan saat itu, penulis termasuk yang kontan terkejut bersorai gembira kala lihat Nanang sedikit terburu hampiri lokasi.
Kami —puluhan massa aksi, serasa tenggak vitamin. Sejurus kemudian, lewat corong megaphone, dia berorasi.
Kendati tak sama persis, kurang lebih bunyi orasi singkat bersejarahnya: "Saya setuju dengan aspirasi kalian. Saya mendukung perjuangan mahasiswa. Saya ikut di sini, agar kalian tak merasa sendiri. Hidup Mahasiswa!" Demikian.
Semenjak hari itu Nanang Trenggono jadi satu nama paling dekat paling lekat ikonik, tak saja dengan gelora juang gelintir aktivis mahasiswa pelopor aksi-aksi massa lintas kampus dan jejaring lintas daerah nan mulai saling terhubung (misal Metro dan Kotabumi, Lampung Utara) ditengah iklim represi dan aktivitas intelijen meninggi.
Namun jua, dengan nadi konsolidasi gerakan perlawanan mahasiswa-rakyat berikut taktik strategi perjuangannya lintas aktor lintas sektor di Lampung. Pun pascareformasi, hingga transisi demokrasi di lokal Lampung. Nanang Trenggono turut tercatat harum.
Dengan puzzle demi puzzle (kepingan) peristiwa ditengah-tengahnya; penculikan aktivis PRD, pendiri/Ketua Umum (Ketum) Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) sayap PRD, Andi Arief dari ruko kakak perempuannya di bilangan Wayhalim Bandarlampung, 28 Maret 1998.
Andi, satu dari 9 orang (6 diantaranya kader PRD) korban selamat kasus penghilangan paksa dan penculikan aktivis 1997–1998, selain satu korban: Leonardus Gilang Nugroho ditemukan tewas serta 13 lainnya masih dinyatakan hilang belum kembali belum diketemukan hingga detik ini.
Kelak, terbukti dilakukan oleh aktor negara: aparatur represif Orde Baru Soeharto dalam tiga gelombang linimasa.
Dengan klaster korban gelombang pertama jelang Pemilu Mei 1997. Yakni Sonny dan Yani Afri, keduanya sopir; simpatisan Megawati Soekarnoputri, gabung koalisi PDI Pro Mega dan Partai Persatuan Pembangunan dikenal Mega-Bintang (diintervensi PRD jadi MBR: Mega-Bintang-Rakyat), ditangkap di Jakarta hilang per 26 April 1997.
Lalu, suami Eva Arnaz, pengusaha pro-PPP/Mega-Bintang, Dedi Hamdun; aktivis PPP Noval Alkatiri, serta Ismail; tiga hilang di Jakarta sejak 29 Mei 1997. Hari H Pemilu.
Berikut klaster korban gelombang kedua jelang Sidang Umum MPR 1-11 Maret 1998.
Yakni penyair buruh asal Solo, pendiri Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (Jaker) sayap PRD, Widji Thukul, hilang di Jakarta per 10 Januari 1998. Aktivis SMID-PRD Suyat hilang di Solo per 12 Februari 1998.
Aktivis PRD, mahasiswa Unair Surabaya, Herman Hendrawan; hilang usai konferensi pers Komite Nasional Penyelamat Demokrasi (KNPD) di YLBHI Jakarta 12 Maret 1998.
Aktivis PRD, mahasiswa Unair dan STF Driyarkara Jakarta, Petrus Bima Anugrah hilang di Jakarta per 30 Maret 1998.
Dan klaster korban gelombang ketiga pada Tragedi 13-15 Mei jelang Soeharto jatuh 21 Mei 1998. Yakni kontraktor Abdun Nasser; Ucok Munandar Siahaan (mahasiswa); siswa Sekolah Pelayaran, Yadin Muhidin (ditangkap Polrestro Jakarta Utara); ketiganya hilang saat chaos, per 14 Mei. Pelajar SMA, Hendra Hambali hilang di Glodok per 15 Mei 1998.
Adapun 9 korban selamat termasuk klaster kedua dan ketiga yang dibebaskan (asbab tanpa proses peradilan: dilepaskan) aktor penculiknya.
Yakni 1) Putra Profesor Teknik Kimia Unsri Djamilus Zainuddin, aktivis Aliansi Demokrasi Rakyat/Aldera 1993–1999, Sekjen Solidaritas Indonesia untuk Amien dan Mega (SIAGA) 1997–1998, kelak gabung PDI Perjuangan bentuk Brigade Siaga Satu (Brigas) yang jadi nama korporat jasa pengamanan diriannya Brigass Lanang Security, politisi Gerindra/anggota DPR 2009–2019, anggota BPK RI 2019–2022, Komisaris Independen Antam 2025–kini, Prof. (HC) Dr. Pius Lustrilanang, S.IP, M.Si, CFRA, CSFA.
Pius diculik depan RSCM Jakarta usai konferensi pers LBH 2 Februari 1998 (dilepas 2 April 1998) lalu sempat lapor Komnas HAM, ngungsi ke Belanda, speak up di AS.
2) aktivis/advokat Desmond Junaidi Mahesa, kelak politisi Gerindra, anggota DPR/MPR 2009–2023 pernah Ketua Komisi III DPR diculik di LBH Nusantara, Jakarta, 4 Februari 1998.
3) Politisi PDI Pro Mega kelak gabung Gerindra, Haryanto Taslam (Hartas).
4) Aktivis SMID-PRD kelak Ketua KPP PRD Pemilu 1999 dampingi Ketum PRD dalam penjara Budiman Sudjatmiko, gabung PKB 2008, anggota PAW DPR 2018–2019, Ketua Komisi VI DPR 2019–2024 kini Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza; 5) aktivis Jaker/PRD, Raharja Waluya Jati; keduanya diculik di RSCM usai konferensi pers KNPD di YLBHI Jakarta 12 Maret 1998.
6) Aktivis SMID-PRD, kini Komisaris anak Pelindo, Aan Rusdianto; 7) aktivis PRD, jurnalis, Koordinator Ikatan Keluarga Korban Orang Hilang Indonesia (IKOHI), kini Wakil Menteri HAM Mugianto; 8) aktivis PRD, Sekjen SMID, dua dekade jurnalis (Tempo, VIVANews, Ketum AJI, CNN Indonesia, The Jakarta Post) 1999–2020, komisaris BUMN, Stafsus Menteri BUMN, Wamenkominfo, kini Sekjen Kagama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria; ketiganya diculik di Rusun Klender Jakarta, 13 Maret 1998.
9) Andi Arief, aktivis Pelajar Islam Indonesia era SMAN 2 Tanjungkarang Bandarlampung, Ketum Senat Mahasiswa 1993–1994 juga Pinum Majalah Sintesa FISIP UGM, pendiri Tegak Lima bareng Nezar, Deny Indrayana; Ketum SMID 1994–1998, pimpinan bawah tanah PRD 1996, Ketua Perbasasi Lampung 2002–2012 kelak Ketua Harian PB Perbasasi 2012–2017, pendiri Jaringan Relawan Nusantara SBY-JK 2004, Komisaris Independen Pos Indonesia 2004–2008, cawagub independen bareng Muhajir Utomo Pilgub Lampung 2008, Stafsus Presiden Bidang Penanggulangan Bencana dan Bantuan Sosial 2009–2014, Wasekjen 2015 lanjut Ketua Bappilu DPP Partai Demokrat 2020–2024, kini Komisaris Independen PLN per 2024. Diculik di Lampung 28 Maret 1998.
Hingga detik ini tercatat, tak satu dari yang diculik periode pertama, ketiga, muncul lagi. Beberapa penyintas yang diculik periode kedua telah bertestimoni terbuka kisahnya.
Dibawah tekanan rakyat hingga lembaga HAM dunia, khusus klaster kedua berdasar proses hukum Mahkamah Militer, penculikan aktivis prodemokrasi terbukti dilakukan Tim Mawar bentukan Kopassus.
Meski beberapa pelaku dihukum, dipecat, dipenjara bervariasi 15-26 bulan kurungan, penyelesaian tuntasnya disebut, belum.
Data Tim Relawan untuk Kemanusiaan, Tragedi Mei 1998 menelan korban 1.217 jiwa (Zein: 2005). Penulis, panjang kali bahas ini?
Kasus penghilangan paksa dan penculikan aktivis, dan Tragedi Mei 98 inilah; "salah dua" isu penyita atensi terbesar Nanang selama membersamai pelbagai obrolan empat mata. Selain isu proletarisasi tadi.
Nanang jua pemuji kepeloporan aktivis 1998 tradisikan berbagi selebaran pernyataan sikap aksi. Dia menilai, itu menjadikan aksi kaya nilai. Dia jua berempati atas salah satu titik lemah gerakan prodem: fakir logistik.
Berkat supel, pribadi santun tenang, pendengar bijak, pengagum Pramoedya Ananta Toer, dan penghapal luar kepala macam jenis suku cadang Toyota Taft kesayangannya ini; banyak disuka.
Kedoyanannya kumpul diskusi asyik antara lain berbuah (dia bagian aktor balik layar) sukses eksekusi ide kreatif pendirian hingga terbit Majalah Republica, UKMF FISIP Unila.
Bukan cuma dosen jua sohib, Nanang paten terapkan kepakaran komunikasi pada praktik keseharian, minimal di kampus.
Hingga per linimasa, portofolio rekam jejak kiprahnya tak saja sebagai penulis, kolumnis berpisau analisa tajam, narasumber favorit media massa lokal; pasca-1998 dia tercatat bagian pendiri Lampung Parliament Watch (LPW) bareng sejawat akademisi dan aktivis.
Dari yang kini telah mendiang: aktivis antikorupsi, Koordinator KoAK Lampung, sastrawan Ahmad Yulden Erwin; dosen FH Unila Armen Yasir dan Wahyu Sasongko; aktivis Fordima, SMID, kader PRD pertama di Lampung, aktivis YLBHI, Bambang Ekalaya; Pinum Lampung Post Bambang Eka Wijaya; serta direktur LBH Bandarlampung pertama, pendiri/Ketum YPBHI Dedy Mawardi.
Hingga direktur LBH Bandarlampung kedua Abi Hasan Mu'an, dosen FE Unila Asrian Hendicaya; jurnalis Antara, Budisantoso Budiman; wartawan Lampung Post lalu Trans Sumatera kelak Lampung TV, aktivis WALHI Firman Seponada; dosen FISIP UBL Jauhari Zailani, dosen FISIP Unila Syarief Makhya, dosen FH Unila Tisnanta, sejumlah lainnya.
Berkat woro-woro wartawan Lampung Post lalu koresponden Jakarta Post pun selain Ahli Pers Dewan Pers untuk Lampung, kelak 12 tahun kemudian Pinum/Pimred Teras Lampung, Oyos Saroso HN sang pengampu mandat; Nanang jadi bagian pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Biro Lampung yang baru lahir 31 Maret 2001. Era Gus Dur.
Selain keduanya jua Armen, Budi, Firman, Jauhari Zailani; dua eks aktivis Teknokra Unila yang lalu jadi koresponden Tempo Fadilasari; koresponden Gatra kelak TransTV, Trans7, CNN Indonesia, Sugiantoro.
Juga 7 eks wartawan Lampung Post dan Trans Sumatera: Damanhuri, Samsuri (dua ini kelak ampu pers kampus IAIN Raden Intan), Hasanudin Z Arifin (kelak Bandarlampung News), 'Paus Sastra Lampung' Isbedy Stiawan ZS; Ridwan Saifuddin (kelak ASN kini Kabid di Bappeda Lampung), Subur Wadyo, Zainal Muttaqien.
Masih 2001, selanjutnya Nanang jua terlibat aktif brainstorming hingga tapak eksekusi gerakan penyelamatan demokratisasi Indonesia dari cengkeraman anasir ekonomi-politik sisa-sisa kekuatan lama, sisa-sisa kediktatoran Orba, kala itu.
Melalui avant garde wadah perlawanan, aliansi strategis elemen prodemokrasi dan masyarakat sipil: FNPBI, Formala, Garda Bangsa, GMKI, GP Ansor, Jaker, KBH Lampung, KoAK Lampung, LAM, LBH Bandarlampung, Lentera Resistance, LMND, LPW, Persatuan Mahasiswa Lampung Timur, Persatuan Mahasiswa Tanggamus/Permata, PMII, PRD, PUSSbik, Serikat Tani Nasional (STN), UKMBS UBL, YPBHI, dan lainnya.
Plus Armen, Jauhari Zailani, Wahyu, selaku pribadi. Nanang? Kami todong: koordinator. Front Demokrasi Lampung (FDL), namanya.
Lompat tujuh warsa berselang, Nanang jadi anggota KPUD Lampung genre kedua, 2008-2013. Lanjut jadi Ketua KPU Lampung 2013-2018. Ditengahnya, pascasandang doktor 2009, dia bagian pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) UNPAD Lampung.
Balik ke habitat kembali ngajar, dia jua Jubir Rektor Unila per 2019. Lama tak sua kabar, tahu-tahu dengar dia rilis karya buku 160 halaman, "Antagonisme Komunikasi Politik Konsekuensinya Terhadap Integrasi Politik", terbitan Suluh Media, 2021.
Jua terlantik Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Lampung 2021-2024. Dan Waketum KONI Lampung 2023-2027 produk restrukturisasi 13 Desember 2024 sampai pengunduran diri Arinal Djunaidi.
Kontribusi pamuncaknya, merilis karya buku "Gerakan Korektif: Tradisi Baru Gerakan Mahasiswa Indonesia" dieditori sejawat dosen Nina Yudha Aryanti dan Abdul Firman Ashaf, terbitan Deepublish Digital, DIY, 2025.
Merujuk data dinamis Unila Dalam Angka per Januari 2026, dari total 40.108 mahasiswa 8 Fakultas dan 128 Prodi ampuan termasuk 1 S3 Ekonomi, 156 Guru Besar. Sepeninggal Nanang, dosennya berkurang menjadi 1.465 orang. Seturut data fakultas, dosen Prodi Komunikasi kini menjadi 32.
Bukan figur haus validasi, kendati tak jarang disentil disebut dosen "kiri", sebagian pihak (mungkin) menilai dia tak tinggalkan legasi.
Tapi bagi penulis, selain dua buku ikhtisar pemikiran kritisnya, kini sahih: Nanang pergi dengan meninggalkan legasi penting bin mahal; keberpihakan pada kaum tertindas oleh kaum terpelajar, insan cendekia cerdas, kaum sivitas. Mendiang laik semat intelektual organik. Pahlawan reformasi?
Maut di tangan Tuhan. Batin bak tersengat, baca cepat kiriman pesan singkat petang itu. Ulah depannya; kalimat warta merta. Memaksa penulis kemudian, kumpulkan kepingan kenangan.
21 Januari 2026, Mas Nanang Trenggono tutup usia. Menghembuskan napas terakhir dalam perawatan medis (infonya penyakit syaraf kejepit) dideritanya, di RS Imanuel Bandarlampung, Rabu senja. Di kampung muasal dia kini berpusara.
Terngiang kalimat pertama awal kenal 29 warsa silam, batin berbisik, "saya Muzzamil, Mas. Selamat jalan." Hidup Rakyat! (*)
*) aktivis 98, kontributor Helo Indonesia.
