Helo Indonesia

19 Beruang Hitam Piabung Berangkat Bela Negeri, Pulang dalam Keabadian

Herman Batin Mangku - Nasional -> Peristiwa
Rabu, 28 Januari 2026 20:14
    Bagikan  
TNI
HELO LAMPUNG

TNI - Prajurit Beruang Hitam, senyap tapi mematikan

PAGI di Cisarua, Bogor, berubah menjadi kabar duka bagi Korps Marinir dan masyarakat Lampung. Tanah yang longsor menimbun harapan, mimpi, dan rencana pulang para prajurit.

Dari 23 Marinir yang gugur dalam peristiwa itu, 19 di antaranya adalah prajurit Batalyon Infanteri 9 Marinir/Beruang Hitam, satuan kebanggaan yang bermarkas di Bhumi Marinir Piabung, Pesawaran, Lampung.

undefined

Mereka gugur bukan di medan perang, melainkan saat tengah menyiapkan diri untuk tugas negara. Saat itu, para prajurit sedang berada pada puncak kesiapan sebelum diberangkatkan ke wilayah perbatasan Papua—tempat sunyi yang menuntut keberanian, keteguhan, dan kesetiaan tanpa syarat kepada merah putih.

Satu per satu, nama mereka kini terpatri sebagai kisah pengabdian:
Serda Mar Riswan, Praka Mar Mahfudi, Pratu Mar Dicky Yoga, Pratu Mar Heru, Pratu Mar Hamid, Pratu Mar Febri, Prada Mar Burton, Pratu Mar Andiko, Serka Mar Afriansyah, Koptu Mar Edi, Praka Mar Ari, Serda Mar Sidiq, Serda Mar Antoni, Pratu Mar Dirwa, Serda Mar Erick, Praka Mar Ulil, Praka Mar Anton Kharisma, Pratu Mar Genta, Praka Mar Kori. 

Baca juga: Gugur Tertimbun Longsor, Pratu Febri Dimakamkan Secara Militer di Gedong Air

undefined

Mereka bukan hanya prajurit dalam barisan. Mereka adalah anak yang berpamitan kepada orangtua, suami yang meninggalkan pelukan terakhir, ayah yang berjanji pulang membawa cerita. Kini, janji itu tinggal kenangan.

Beruang Hitam dari Piabung
Yonif 9 Marinir/Bala Jala Yudha Perkasa—yang lebih dikenal sebagai Beruang Hitam—bukan satuan sembarangan. Mereka adalah prajurit-prajurit terpilih, dididik untuk senyap namun mematikan, kuat namun setia.

Julukan itu melekat karena watak mereka: kokoh, sabar, dan selalu berdiri paling depan ketika negara memanggil. Di bawah komando Brigade Infanteri 4 Marinir, satuan ini dibentuk untuk menjaga Pulau Sumatera dan wilayah strategis di sekitarnya.

undefined

Mereka terbiasa bertugas di medan sulit—di pantai, hutan, perbatasan, dan daerah terluar—tempat di mana nama sering kali tak tercatat, tetapi pengorbanan selalu nyata.

Gugur dalam Pengabdian
Kehilangan 23 prajurit dalam satu peristiwa adalah duka yang tak mudah disembuhkan. Terlebih, mereka gugur saat tidak sedang mengangkat senjata, melainkan sedang menyiapkan diri agar kelak mampu menjaga bangsa ini dengan sebaik-baiknya.

Negara memberi penghormatan tertinggi. Para prajurit yang gugur akan diusulkan menerima Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) anumerta. Upacara pemakaman militer digelar dengan penuh kehormatan—penjagaan persemayaman, tembakan salvo, dan bendera merah putih yang menyelimuti peti jenazah.

Negara juga menjamin hak keluarga yang ditinggalkan: santunan, asuransi kematian, hingga biaya pendidikan anak-anak mereka. Namun, tak ada jaminan yang mampu menggantikan satu hal yang hilang—kehadiran orang tercinta.

undefined

Di Piabung, di Lampung, dan di banyak rumah yang kini sunyi, kesedihan itu masih menggantung. Namun bangsa ini tak boleh lupa. Sebab mereka telah menunaikan tugas hingga akhir hayatnya.

Beruang Hitam telah berpulang.
Namanya mungkin satu per satu dipanggil dalam doa, tetapi pengabdiannya akan tinggal lama
di ingatan negeri yang mereka jaga. (HBM)